Ulang Tahun (Ultah) yang Penuh Linangan Air Mata, Sedih, Adik Meninggal Dunia

Berita itu cukup mengagetkan, sehari sebelum itu anak-anak kupotret, Minggu itu aku ke Boyolali

In memorial, 7 Juni 1993 di ulang tahunku yang ke-26 penuh kenangan, ada tetesan air mata

Ulang tahun yang ke 26 tahun itu, 7 Juni 1993, aku tidak banyak komentar bahkan dapat dikatakan berduka, anak dari Paklik – Bulek (Tujimin – Parsinah) yang namanya Maryanah dikabarkan meninggal dunia.

Maryanah saat itu masih sekolah duduk di kelas 2 sebuah sekolah agama (Islam), Madrasat Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Boyolali (Jl Kemuning Kota Boyolali). Jadi setiap pagi berangkat ke sekolah dengan naik kendaraan umum.

Dari rumah di Ngemplak, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras ke jalan raya Solo – Semarang kadang jalan kaki kadang naik sepeda, dan sepeda dititipkan di penitipan sepeda.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun

telah meninggal dunia dengan tenang, anak Maryanah putri Bapak Tujimin – Ibu Parsinah (anak pertama), hari ini 7 Juni 1993. Jenazah akan dimakamkan di pemakaman umum Bendo Santren, siang ini.

Berita itu saya terima melalui telepon kantor, maka praktis yang sehari sebelumnya aku dari Boyolali, kembali ke Boyolali lagi untuk berbela sungkawa.

Kecelakaan Lalu Lintas

Saat hendak pergi sekolah ke Boyolali Kota (MTsN Boyolali), pagi itu bersama beberapa teman yang sedang berada ditepi jalan raya besar (Solo – Semarang) tiba-tiba dihampiri sebuah mobil pickup pengangkut sayur, nyeruduk tiga anak yang sedang menunggu angkutan umum, yang sama-sama akan ke sekolah.

Naas, memang sudah takdir dari yang Maha Kuasa, Allah SWT., si Maryanah mungkin diperkirakan meninggal dunia ditempat kejadian meskipun tetap dilarikan ke rumah sakit RSUD Boyolali bersama ketiga temannya untuk perawatan.

Semoga meninggalnya sebagai mati syahid (syuhada) karena sedang berangkat sekolah menuntut ilmu di sekolah Madrasah Tsanawiyah Negeri. Aamiin.

Namun kejadian inilah yang membuat syok orang tuanya, bahkan ibunya Bulek Parsinah beberapa kali pingsan, ya.. maklumlah anak mbarep perempuan satu-satunya yang digadang-gadang tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya ketiga pergi ke sekolah.

Usia-usia remaja yang masih lucu-lucunya
dan penuh manja kini telah tiada
pergi menghadap yang Maha Kuasa
untuk selama-lamanya

Siapa yang tidak trenyuh, tangis penuh kesedihan, tetapi pak modin dalam pesannya mendoakan semoga meninggalnya mati sebagai syuhada, atau mati sahid (sebagai pejuang) jadi jangan ditangisi.

Selamat jalan Maryanah semoga engkau bahagia disisi-Nya. Aamiin.

Saya Potret Sehari Sebelumnya

Dicatatan diary-ku tertulis, 1 hari sebelumnya aku potret semua anak-anak ketika 6 Juni 1993 aku pergi ke Boyolali, ya… aku potreti anak-anak Bulek Parsinah dalam berbagai gaya.

Tetapi, sampai saat ini potret itu, saya belum mencarinya, karena setelah saya apdruk terus saya simpan, dan tidak saya tunjukkan, jadi sampai saat ini malah entah dimana foto itu.

Ultah dengan Kata Duka

Biasanya Ultah dengan banyak kata mutiara, syair, penyemangat, maka hari itu, ulang tahun yang tanpa kata.

Kecuali, kata
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya semua dari Allah dan sesungguhnya pula semua akan kembali kepada-Nya)
Selamat Jalan Maryanah tercinta. Allah SWT sayang padamu.
Salam sayang dari saya — Suwardi Wea

Inilah ulang tahunku yang tanpa kata.

Salam.

Eswede Wea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s