Berkurban di Tengah Pandemi Covid-19

Berikut ini salah satu contoh materi khutbah Idul Adha 2020, kiriman dari Lik Kasjo (Kissparry Sekayu). Materi ini juga akan kami telah terbit di Kissparry dan akan kami tayangkan di Darul Hijrah.

الخطبةالأولى

BERKURBAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19

Oleh Dr. H. Syarif Husain, S.Ag. M.Si.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،

 اَلله أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ،

اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً  لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهْ اَللَّهُ اَكْبَرْ  اَللَّهُ اَكْبَر  وَلِلَهِ الْحَمْدُ وَ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ، الحمد لله الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا،

وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرً

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ واصحابه وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَا بَعْدُ :

ايها الناس أوصيكم وإياي بتقوي الله لعلكم ترحمون . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ :  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وقال تعالى إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَر

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimanii wa Rahimakumullah

       Alhamdulillah syukur kita tutur dan kita hatur, ke hadirat Allah Sang Maha Ghofur. Nikmat berlimpah tiada terukur, selalu Allah berikan sepanjang umur. Di antara sekian hamba Allah di muka bumi ini, di tengah krisis kesehatan, di tengah gencarnya wabah virus yang menyerang kita saat ini, kitalah yang masih diringankan langkahnya oleh Allah, diberikan kekuatan iman, diberikan kelembutan hati, untuk merespon seruan Allah dalam al-Quran yakni menunaikan ibadah Jumat siang hari ini. Tentu dengan tetap berikhtiar menjalankan protokol kesehatan yang ketat, termasuk di antaranya, menjaga jarak antar sesama, memakai masker dan memakai sanitizer. Kita memohon kepada Allah SWT, semoga Jumat ini, iman dan taqwa kita senantiasa meningkat di hadapan Allah SWT.

       Shalawat serta salam senantiasa kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Beserta keluarga, sahabat dan pengikut beliau hingga akhir zaman.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah….

       Sesngguhnya ada tiga peristiwa penting yang tidak bisa lepas dari prosesi pelaksanaan Hari Raya Idul Adha. Ketiga peristiwa tersebut adalah ibadah haji, shalat ‘Ied dan penyembelihan hewan qurban, yang menjadi sejarah hari raya Idul Adha itu sendiri. Tahun ini kita menyambut Idul Adha dengan dukacita, banyak sekali peristiwa kelabu hadir sebelum datangnya hari besar ini.

       Kondisi wabah Covid-19 yang sampai hari ini belum juga mereda, jangan sampai membuat umat Islam kehilangan kendali akal sehatnya. Semua yang terjadi di dunia tentu atas rencana dan ketentuan Sang Maha Kuasa. Karenanya umat Islam harus bijak dan senantiasa mengedepankan prasangka baik (husnudzan). Tentunya takdir Allah SWT ini tidak boleh serta merta menurunkan semangat spiritual kita sebagai umat Islam. Kita harus meyakini bahwa selalu ada hikmah besar yang terkandung dari setiap ketetapan yang diberikan oleh-Nya.

       Tentu ada hikmah besar yang bisa diambil dari semua ini, yaitu kesabaran dan kepasrahan.

            اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah….

       Jika di antara kita ada yang berumur 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun dan seterusnya, maka kurang lebih sebanyak itu pula kita telah melewati perayaan Idul Adha. Pertanyaannya adalah, dari sekian Idul Adha yang telah dilalui itu, apakah kita memahami betul hakikat dan faedah Idul Adha itu? Atau jangan-jangan kita hanya melewatkan setiap perayaan idul Adha dengan tanpa peningkatan taqwa. Jangan-jangan kita hanya terlihat bahagia ketika daging qurban dibagikan, atau hanya terlihat bahagia ketika merasa lebih mampu dari orang lain.

       Setiap datang Idul Adha, kita hanya fokus dengan waktu sholatnya, kita hanya fokus dengan mempersiapkan binatang apa yang akan disembelih, padahal hikmah terbesar dari perayaan Idul Adha yang diulang setiap tahunnya, adalah dengan meneladani perjalanan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Untuk kita amalkan dan praktekkan dalam keluarga kita.

       Hadirin… Ibrahim yang terlahir fitrahnya sebagai seorang muslim dan rasul, masih mau memperdalam ajaran agamanya. Seperti misalnya dalam surah al-An’am ayat 77 dikisahkan, ketika melihat bulan, Ibrahim berkata inilah Tuhanku. Ketika bulan terbenam ia berkata, Tuhan tak mungkin terbenam. Menjelang pagi, ia melihat matahari terbit dan berkata, inilah Tuhanku. Tapi menjelang petang, matahari pun tenggelam, ia berkata Tuhan tak mungkin tenggelam. Di akhir pencariannya, Nabi Ibrahim berkata:

إنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

       “Sesungguhnya aku hanya bersujud hanya kepada zat yang menciptakan langit dan bumi, yaitu Allah SWT.”

       Seorang nabi dan rasul seperti Ibrahim saja, masih mau memperdalam agamanya, kita yang bukan nabi, yang hisabnya belum jelas, yang surga nerakanya belum pasti, maka sudah seharusnya kita lebih giat memperdalam agama dan memperkuat keyakinan kita. Ini mengajarkan kepada kita, tidak cukup menjadi muslim hanya karena lahir di keluarga muslim, kita diminta untuk menguatkan syahadat keyakinan kita.

       Jika sebuah keluarga ingin dikuatkan dalam Islam, kuncinya adalah aqidah. Dan Aqidah seharusnya diajarkan sejak dini.

       Banyak anak-anak kita tidak tau, kenapa harus Islam, kenapa harus sholat. Kenapa harus puasa. Akhirnya, mereka hanya menjadi orang yang tau caranya sholat, tapi nggak mau sholat dan tidak tau kenapa harus sholat. Karena sedari awal, mereka hanya dididik untuk hafal dan tahu saja. Tanpa dibekali kemauan dan alasan yang jelas mengapa mereka harus melakukannya.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah….

       Ibrahim yang sudah belajar mendekatkan diri kepada Allah, kemudian mengajak keluarga dan seluruh umatnya. Dan itu tidak mudah. Ayahnya mengecamnya, seisi kampung mengusirnya. Tidak cukup diusir, Nabi Ibrahim dibakar. Hadirin dapat kita simpulkan, kalau kita sudah mendekat kepada Allah, sudah mengenal tuntunan Islam, maka jangan ber-Islam sendirian. Jangan sholeh sendirian. Ajak orang-orang di sekitar kita. Jangan yang rajin ikut pengajian hanya ibunya. Yang rajin ke masjid hanya ayahnya. Tetapi anaknya dibiarkan saja. Ditemani gadget dan game-game yang tidak ada manfaatnya.

       Dan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu tidak mudah. Seorang nabi dan rasul saja banyak tantangannya. Apalagi kita yang bukan nabi dan rasul. Jika seseorang jarang ke masjid, maka tidak mudah untuk mulai rajin ke masjid. Para perempuan, yang tidak terbiasa menggunakan hijab, maka tidak mudah untuk mulai membiasakan diri berhijab. Akan tidak nyaman. Akan ada ejekan dari oranglain. Dalam surat Al-Baqarah 214 disebutkan:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم

Apakah kalian kira, akan mendapatkan syurga dengan mudahnya. Padahal belum aku uji tingkat keseriusan dan kesabaran kalian.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah….

       Ketika Ismail lahir dan mulai tumbuh, Allah perintahkan Ibrahim dan keluarganya untuk pergi ke wilayah yang jauh dan gersang. Kemudian atas perintah Allah, dengan berat hati Ibrahim kembali ke Palestina dengan meninggalkan Ismail dan Hajar seorang diri di sana, di tempat yang jauh dan gersang, yang di kemudian hari nanti disebut Makkah.

       Hadirin, jangan menduga bahwa Nabi Ibrahim membiarkan anaknya Ismail dan Istrinya Hajar begitu saja. Sejak Ismail disusui, sampai bisa merangkak, Nabi Ibrahim di balik kesibukannya sebagai seorang ayah yang mencari nafkah, dan sebagai rasul yang berdakwah, selalu ia luangkan waktunya untuk pergi ke Makkah, menengok perkembangan anaknya Ismail. Jangan bayangkan menggunakan pesawat atau bis seperti sekarang. Nabi Ibrahim berjalan kaki dari Palestina ke Makkah hanya sekedar memastikan putranya tumbuh dengan baik.

      Seorang Rasul seperti Nabi Ibrahim saja, yang sibuknya luar biasa, masih memberikan perhatian ekstra kepada anaknya. Bagaimana kiita, yang hadir sebagai ayah saat ini, bukan nabi dan rasul, pekerjaannya tidak sesibuk Ibrahim, tapi tidak sempat melihat perkembangan anaknya. Tidak sempat memperhatikan keluarganya. Demi Allah, khotib sampaikan, bertaqwalah kepada Allah. Kita mencari rizki di luar rumah, untuk di bawa ke dalam rumah. Sesibuk apa sih kita mencari harta di luar rumah, sampai lupa ada harta yang paling berharga di dalam rumah.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

       Ketika Ismail berumur 4 sampai 5 tahun, turun perintah Allah dalam Surat Al-Baqarah 127.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِۦمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَٰعِيل

       Turun perintah agar Ibrahim meninggikan pondasi bangunan ka’bah yang sempat hancur diterjang banjir pada masa nabi Nuh AS. Dalam riwayat disebutkan, ketika ayahnya hendak membangun ka’bah, Ismail yang berumur 4-5 tahun itu melihat ayahnya bekerja. Lalu merasa bahwa tanggung jawab ayahnya begitu besar, sehingga timbul perasaan ingin membantu. Kemudian Ismail kecil datang membawa batu, dan berkata pada ayahnya, “Duhai ayah, bolehkah saya membantumu.” Ibrahim tersenyum. Batunya disusun, sampai sekarang dikenal dengan hijr Ismail.

       Hadirin, poin dari cerita ini, ketika ayah memberikan perhatian kepada anak, maka akan muncul feedback-nya. Muncul dampaknya. Anakpun akan menaruh perhatian kepada kita.

       Kalau kita suatu ketika pulang ke rumah, adakah anak kita datang menyambut dengan gembira. Kalau suatu ketika kita mencuci mobil atau motor, adakah anak kita berkata “ayah, bolehkah aku bantu?”. Kalau ibu, suatu ketika sedang menyapu, adakah anak perempuan ibu meminta ibu untuk istirahat saja, lalu dia yang meneruskan pekerjaan ibu?

       Atau jangan-jangan ayah yang nyuci motor dan mobil, anaknya yang pakai. Ibu yang nyapu, anaknya yang merintah. Kalau benar itu terjadi, tanyakan pada diri kita, keteladanan apa yang belum kita praktekkan dari nabi Ibrahim hingga saat ini.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah….

       Puncaknya, surah As-Saffat ayat 102. Tiba perintah Allah yang selanjutnya. Anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya. Setelah lahir harus diasingkan. Setelah Ismail beranjak remaja, turun perintah Allah yang lebih berat, yaitu mesti disembelih. Bayangkan, anak yang ditunggu kelahirannya. Sudah lahir mesti dipisahkan. Setelah beranjak remaja, turun perintah Allah dalam al-Quran

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّى أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّى أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ

       Wahai anakku, aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu.

       Hadirin… Poin pertama, Ibrahim memanggil anaknya dengan bunayya, Ismail menjawab yaa abatii. Bunayya adalahpanggilan penuh kasih terhadap anak, dan abatii adalah panggilan penuh sayang pada Ayah. Hadirin, hal ini mengajarkan pada kita, kalau kita mendambakan keluarga yang bahagia, panggillah anak-anak kita dengan panggilan terkasih, dan ajarkan kepada mereka untuk memanggil orang tua dengan penuh hormat dan sayang.

       Kemudian, Ismail menjawab di ayat selanjutnya:

قَالَ يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِين

       Wahai ayah, jangan tunda, lakukanlah cepat. Insyaallah aku bersama orang yang sabar.

       Hadirin, perhatikanlah, jika kita memberikan perhatian yang dalam kepada anak-anak kita, keluarga kita, seperti keluarga Ibrahim ini, jangankan hal-hal kecil, nyawanya pun rela diberikan demi orang tuanya.

       Subhanallah… Barangkali kita berkata, wajar saja karena Ibrahim adalah seorang nabi dan rasul. Kita bukan nabi, bukan rasul. Maka, perhatikanlah hadirin, ada satu keluarga lain. Bukan dari keluarga nabi dan rasul. Keluarga tersebut belajar dan meneladani kisah keluarga nabi Ibrahim. Dipraktikkan, dan berhasil menjadi keluarga yang diberkahi Allah. Diabadikan nama keluarga tersebut dalam Al-Quran, yaitu surah ketiga, Ali Imron, keluarga Imron. Imron bukan nabi, Imron bukan rasul. Tapi ketika meneladani kisah nabi Ibrahim dan keluarganya, diabadikanlah Imron dan keluarganya dalam Al-Quran. Disandingkan dengan keluarga Ibrahim dalam Surah Ali Imron ayat ke-33.

 اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah….

       Keluarga Ibrahim dan Keluarga Imron mengajarkan pentingnya taqwa di tengah-tengah keluarga kita.

       Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

       Hai orang-orang yang beriman, tingkatkan Takwamu kepada Allah. Kenapa ya Robb, kenapa kami harus meningkatkan taqwa kami? Yuslih lakum a’maalakum, kami perbaiki segala keburukan prilaku yang nampak dalam kehidupanmu, tindakan kriminalitas, saling menyakiti, saling menyingkirkan, perbuatan tercela, perampokan, kata quran sederhana, engkau tingkatkan takwa kepada Allah, kami perbaiki keburukan-keburukan yang ada dalam hidupmu.

       Jadi kalau hari ini, umat Islam Indonesia, 200 juta kurang lebih muslimnya, mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah, ahli ekonominya banyak, ahli hukumnya banyak, ahli politiknya banyak, tapi keberkahan belum diraih juga, ketentraman hidup sulit didapatkan, pencurian sering terjadi, kebahagiaan sulit diperoleh, barangkali kita bukan kekurangan pakar dan ahli, tapi kita kekurangan orang yang beriman dan bertakwa di hadapan Allah SWT.

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحمد

Hadirin Jama’ah Idul Adha Rahimakumullah

       Hadirin, saat ini kita disaksikan oleh Allah dan malaikatnya, kita dihadirkan dalam momentum ini, barangkali ada kesahalan dan dosa yang belum terampuni, ada muhasabah dan introspeksi yang belum dilakukan. Karena itu jangan meninggalkan tempat ini, jangan meninggalkan tempat ini, kecuali dengan membawa pesan yang telah disampaikan, praktekkan dalam keluarga kita. Jangan membayangkan dan menunggu tahun depan, karena demi Allah khotib sampaikan,  kita tidak bisa menjamin tahun depan bisa hidup atau tidak. Idul adha akan datang lagi atau tidak. Mari kita praktekkan mulai hari ini.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْأَنِ الْحَكِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَايَاتِ وَالِّذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

اَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمْسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُالرَّحِيْمِ

الخطبةالثانية

KHUTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ
اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْت عَلَى إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْت عَلَى إبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ

للهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وصلى الله على نبينا محمد وعلى اله وصحبه أجمعين,

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته و

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s